KISAH SUKSES LI KA SHING - ORANG TERKAYA DI ASIA

Kisah Sukses Li Ka Shing - Orang Terkaya di Asia

Li Ka Shing memiliki cerita kesuksesan yang luar biasa. Ia terpaksa putus sekolah untuk menunjang keluarganya. Tapi hari ini dia adalah salah satu orang terkaya di dunia. Li Ka Shing membuka pabrik pertamanya pada usia 22 tahun dan dalam beberapa tahun melihat sukses besar sebagai produsen, pengembang properti, tokoh bisnis, dan investor.

Li Ka Shing sekarang menjadi investor utama dalam sektor teknologi. Dia adalah salah satu investor besar pertama di Facebook, dan akuisisi besar terakhirnya adalah perusahaan telekomunikasi Inggris O2, yang dia beli pada akhir Maret sebesar US$15 miliar (Rp202,5 triliun).

Benua Asia memberi dunia beberapa pemimpin bisnis dan pengusaha paling produktif. Namun, sangat sedikit yang berhasil mencapai puncak kesuksesan melawan kemiskinan dan segudang rintangan.

Salah satu pemimpin visioner tersebut adalah Li Ka Shing.

Tanpa latar belakang keuangan yang kuat atau pendidikan yang memadai, dia berhasil menjadi salah satu pemimpin bisnis papan atas di dunia. Dengan kekayaan sebesar US$31 miliar (Rp418,5 triliun), Li Ka Shing adalah orang terkaya ke-11 di seluruh dunia dan orang terkaya di Asia.

Melalui Grup Cheung Kong dan Hutchison Whampoa Limited, Li Ka Shing menjalankan sebuah kerajaan bisnis yang tersebar di 54 negara. Yang terakhir termasuk dalam liga Fortune Global 500 Company. Bisnisnya telah beragam menjadi sektor seperti produksi semen, real estate, perbankan dan produksi baja.

Perjalanan Hidup Li Ka Shing

Li Ka Shing dibebani tanggung jawab finansial sejak usia muda. Setelah keluarganya melarikan diri ke Hong Kong dari China selatan selama Perang Dunia II, ayahnya meninggal karena TBC. Dia harus meninggalkan sekolah sebelum berusia 16 tahun untuk bekerja di pabrik. Selama hampir empat tahun selama pendudukan Jepang di Hong Kong, Li Ka Shing mengirim 90% gaji selama ia bekerja kepada ibunya.

Kesuksesan yang ia dapatkan sebagai pencari nafkah mengajarkan kepadanya nilai-nilai murah hati yang telah membuatnya terkenal dengan filantropinya saat ini. Kesuksesan Li Ka Shing jelas dipengaruhi oleh pengalamannya selama bekerja di tengah kesulitan keluarga yang mengharuskannya menjadi tulang punggung keluarga sejak ia remaja.

“Tidak masalah seberapa kuat atau mampu Anda; Jika Anda tidak memiliki hati yang besar, Anda tidak akan berhasil.”

Sepenggal kalimat inspiratif itulah yang memberikannya kekuatan untuk terus bangkit.

Li Ka Shing menunjukkan janji sebagai pemimpin yang visioner saat membuka pabrik pertamanya di tahun 1950 saat usianya menginjak 22 tahun. Pabrik Cheung Kong Industries, memproduksi bunga plastik. Dia membayangkan bahwa plastik akan menjadi industri yang booming, dan mimpinya tersebut ternyata benar.

Li Ka Shing mengaitkan kesuksesan Perusahaan Cheung Kong, yang ia mulai dengan hanya sekitar US$50 ribu (Rp657 juta), dengan kemauan untuk mempelajari tren industri terbaru. Li Ka Shing memegang teguh sebuah komitmen dimana korelasi antara pengetahuan dan bisnis adalah kunci kesuksesan

Meskipun Li Ka Shing putus sekolah pada usia muda dan tidak pernah menerima gelar dari universitas, Li Ka Shing selalu menjadi pembaca yang “rakus” dan sangat menyukai kesuksesannya untuk belajar mandiri. Misalnya, dia menyelesaikan buku akuntansi Cheung Kong di tahun pertama perusahaan itu sendiri tanpa pengalaman akuntansi. Dia hanya belajar dari buku.

Seiring dengan wawasan pengetahuan dan industri, Li Ka Shing menganggap kesetiaan dan reputasi sebagai kunci kesuksesan.

Pada tahun 1956, dia pernah menolak tawaran yang akan memberinya keuntungan 30% tambahan atas penjualan (dan mengizinkannya untuk memperluas pabriknya) karena dia telah membuat kesepakatan lisan dengan pembeli lain. Dia tetap menerapkan prinsip kesetiaan tersebut hingga saat ini, bahkan ia akan tetap melakukannya walaupun ia harus kehilangan uang.

Meskipun ia dikenal terutama sebagai pengembang properti, perusahaan Li Ka Shing menguasai 70% lalu lintas pelabuhan dan sebagian besar utilitas listrik serta telekomunikasi di Hong Kong. Dia juga memiliki saham mayoritas di Husky Energy, sebuah perusahaan Kanada. Li Ka Shing mendistribusikan kekayaan dan kekuasaannya di berbagai industri serta wilayah geografis.

Hal ini menunjukkan bahwa Li Ka Shing tidak takut untuk belajar dan bereksperimen di arena baru. Li Ka Shing mengatur aset kepemilikannya secara strategis untuk memastikan keamanannya meski keadaan ekonomi yang tidak menentu. Dia mengantisipasi ekonomi tinggi dan rendah.

Meskipun memiliki banyak aset kepemilikan, sifat hemat yang dilakukannya selama masa kecil telah terbawa ke dalam karier Li Ka Shing hingga saat ini. Sebuah kebijakan untuk mengoperasikan perusahaan tanpa utang berarti bahwa perusahaannya beroperasi dengan menggunakan utang sekecil mungkin.

Li Ka Shing sendiri membeli semua real estate-nya dengan menggunakan modalnya sendiri demi mempertahankan utang pribadi yang berada pada titik nol.

Kebiasaan finansial Li Ka Shing yang baik telah memberi dia kebebasan untuk melakukan investasi di bidang teknologi sebagai “hobi berupah tinggi,” melalui Horizons Ventures Ltd.

Li Ka Shing merupakan salah satu investor besar pertama di Facebook dan baru-baru ini berinvestasi di sebuah startup yang bertujuan untuk mengganti telur dengan substitusi tanaman. Li Ka Shing hanya berinvestasi dalam teknologi yang dia anggap potensial dan akan membuat kepemilikannya semakin mutakhir. Hal ini ia lakukan secara konsisten dengan inovasi yang konstan dalam bisnisnya.

Ia senang menghabiskan uang untuk investasi dan bukan pada hal-hal materi. Secara materi, Li Ka Shing ingin dianggap sebagai orang yang sederhana. Dia memakai arloji listrik seharga £30 (Rp600 ribuan) sepanjang tahun 1990 an.

Mungkin salah satu faktor terpenting yang berkontribusi terhadap kesuksesan Li Ka Shing adalah hasrat yang dia rasakan untuk setiap karyanya.

Pada tahun 2010, Li Ka Shing mengatakan kepada Forbes:

“Kenikmatan yang paling penting bagi saya adalah bekerja keras dan menghasilkan lebih banyak keuntungan.”

Dalam masa pensiunnya, Li Ka Shing tetap sibuk dengan setiap jadwal pekerjaannya.

Li Ka Shing melakukan persiapan untuk menyerahkan tahta kebesarannya kepada putra tertuanya yang bernama Victor. Meskipun usianya menginjak 87 tahun, Li Ka Shing tidak menunjukkan tanda-tanda akan melambatnya kesuksesan yang terus ia raih.

Sumber : Finansialku
Latest
First